logo

31 Maret 2020

China Beri Harapan Palsu, Bantuan Peralatan Medis yang Dikirim ke Eropa Nyatanya Cacat



GELORA.CO - Terkenal dengan kemampuan imitasinya, kualitas produk buatan China kembali dipertanyakan.

Terutama setelah bantuan peralatan medis yang diberikan oleh China kepada negara-negara Eropa yang terdampak pandemik virus corona baru atau Covid-19 ternyata ditolak.

Alasannya tak lain karena ribuan peralatan tersebut tidak sesuai dengan standar, beberapa bahkan cacat dan tidak berfungsi.

Seakan-akan produk medis yang disumbangkan tersebut adalah hasil dari "cuci gudang".

Misalnya saja Belanda yang mengungkapkan telah menarik kembali 600 ribu masker wajah karena filternya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Padahal, setelah tiba dari China pada 21 Maret yang lalu, bantuan tersebut telah didistribusikan kepada para petugas medis.

Alhasil, pemerintah Belanda mengaku akan menangguhkan sisa kiriman bantuan lainnya.

"Sekarang sudah diputuskan untuk tidak menggunakan kiriman ini," tegas pihak Kementerian Kesehatan pada Sabtu (28/3).

Selain Belanda, Spanyol juga merasakan hal yang sama. Di mana mereka bahkan membeli ratusan ribu test kit dari China.

Namun, hampir sebanyak 60 ribu test kit buatan Shenzhen Bioeasy Biotechnology nyatanya tidak akurat.

Untuk persoalan ini, China berkelit. Kedutaan Besar China di Spanyol mengungkapkan perusahaan Shenzhen Bioeasy Biotechnology tidak memiliki lisensi resmi dari otoritas medis China untuk menjual produknya.

Namun, alasan itu seketika gugur setelah Turki juga menyatakan bahwa mereka menemukan beberapa test kit yang dipesan dari perusahaan-perusahaan China tidak akurat.

Di mana hanya 350 ribu test kit yang terbukti akurat dan bekerja dengan baik, seperti yang dikutip dari BBC.

Banyaknya peralatan medis sumbangan China yang terbukti rusak telah memberikan harapan palsu di tengah krisis yang melanda saat ini.

Bagaimana tidak, menurut data dari Johns Hopkins pada Selasa (31/3), jumlah infeksi corona di seluruh dunia saat ini sudah di atas angka 800 ribu.

Saat ini, Spanyol bahkan sudah melampaui China dengan 94.417 kasus, Belanda dengan 12.662 kasus, dan Turki dengan 10.827 kasus.

Dengan semakin banyaknya kasus, kebutuhan akan peralatan medis pun semakin tinggi dan semakin ditunggu-tunggu. (*)